• Beranda FILM_Indonesia
  • Tentang FILM_Indonesia
  • Kontak FILM_Indonesia
  • Catatan Editor FILM_Indonesia

logo
Follow @FILM_Indonesia
twitter

  • Bahasan
  • Bintang
  • Festival
  • Event
  • Review
  • Layar Kini
  • Layar Klasik



@Film_Indonesia
  • Twitter feed loading
Berita Film Terkini
<?php the_title(); ?>
Sang Kiai, Apa kata Christine Hakim, Agus Kuncoro Adi & Adipati Dolken?
May 16, 2013
<?php the_title(); ?>
Cinta Brontosaurus, Benarkah Cinta itu Bisa Kadaluarsa?
May 16, 2013
Cinta Dalam Kardus, tentang Komedi, Kenangan & Hal-hal Lengket Lainnya
May 05, 2013
Sang Kiai: Perjuangan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk Agama & Bangsa
Apr 29, 2013
<?php the_title(); ?>
Berlian Si Etty, Berlian Tujuan Perjalanan Hidup Etty
Feb 21, 2013
#BestOf : RINA HASSIM
Jul 05, 2012
by Rangga Wisesa
#TheBest, Aktris, Layar Klasik, Piala Citra, Plong, Putu Wijaya, Rina Hassim, Secangkir Kopi Pahit, Teguh Karya
0 Comment

#BestOf : RINA HASSIM

 Diapresiasi oleh: @ranggawisesa 

#FilmIndonesiaKaya

RINA HASSIM

Aktris
Genre : Drama, Horor, Komedi
Tahun Aktif : 1968 – sekarang

Quote:

“Prosesnya (terjun ke film) begitu cepat. Seperti mimpi saja“

11. NUR – Mandi Madu (A Rachman, 1986)

karakter super antagonis di film berlatar dangdut ini. Walaupun berkarakter jahat, namun saya rasa penampilan Rina lah yang terbaik dan menjadi ‘penyemangat’ bagi penonton yang menonton film ini. Karakter wanita jahat bernama Nur, bekas pelacur, yang culas, suka memfitnah dan memperbudak Elvi (Elvi Sukaesih), keponakan suaminya.

10. IBU HAJI RACHMAT – Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar, 2010)

Peran yang agak kocak, sebagai seorang istri dari Pak Haji, Rachmat (Slamet Rahardjo), tapi hobinya bukan berdakwah atau lainnya, melainkan main game dan mengisi Teka Teki Silang, lebih tepatnya game boy, permainan elektronik yang digemari anak-anak. Bu Haji lebih suka di rumah menghabiskan waktu bermain game kesukaannya atau mengisi TTS.

9. NYI LORENG – Santet 2 (Wanita Harimau) (Sisworo Gautama Putra, 1989)

Rina Hassim termasuk aktris yang unik, dari segi film-filmnya. Dia banyak bermain di film-film kelas A atau kelas festival yang disutradarai oleh Teguh karya, Sophan Sophiaan atau Sjuman Djaya, tapi juga banyak bermain di film-film kelas C, atau film-film horor, film komedi slapstick, atau film dangdut. Film ini salah satu contoh. Penampilan Rina Hassim cukup mencuri perhatian, karena menjadi karakter antagonis, yaitu seorang siluman harimau yang memperalat sang pemeran utama, Suzanna, untuk mengikuti jalan sesat seperti dirinya. Nyi Loreng, seorang siluman harimau, biang keladi konflik di film ini, digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Dengan penampilan khas macan, dengan rambut warna-warni, Rina Hassim cukup total memerankan karakter ini, dan juga disertai adegan-adegan silat.

8. MAMA MARIO (NY. MATULESSY) – Beri Aku Waktu (Buce Malawau, 1985)

Sebagai Ny. Matulessy dan ibu dari Mario (Mathias Muchus) yang selalu berkonflik dengan suaminya, yang juga ayah mario, Peter Matulessy (Piet Burnama). Suaminya, Peter mendidik Mario dengan sangat keras dan tidak menunjukkan kasih sayang sama sekali, berbeda dengan yang diperlihatkan Ny. Matulessy. Hal ini menyebabkan Mario menjadi pemuda pemberontak. Nominasi pemeran pembantu wanita FFI 1986.

7. JAKSA – Zig Zag (Putu Wijaya, 1990)

Sebenarnya peran Rina di film ini tidak begitu banyak, hanya sebagai seorang jaksa pengadilan, namun memang penampilannya cukup berkesan dan menjadi pencuri perhatian. Mungkin ini pemikiran dewan juri FFI 1991 untuk menetapkan dirinya sebagai pemeran pembantu wanita terbaik.

6. MBOK – Plong, Naik Daun (Putu Wijaya, 1991)

Kembali disutradarai oleh Putu Wijaya, Rina berakting maksimal. Sebagai mbok, pembantu setia di rumah Ucha dan Dessy, majikannya. Suami Mbok juga supir di keluarga itu, diperankan bagus oleh Amak Baldjun. Mbok mempunyai peranan besar dalam membantu kehidupan rumah tangga Ucha dan Dessy dari sejak Ucha belum diangkat menjadi direktur, sampai kehidupan keluarga Ucha naik drastis. Yang menarik, adalah mbok juga otomatis mengalami perubahan hidup dan bekerja, seperti perubahan panggilan ke Dessy, menjadi Nyonya, dan Ucha menjadi Tuan. Mbok adalah seorang wanita pembantu tua yang lugu, berbicara ceplas ceplos dan setia. Selain itu adegan yang lucu ketika Mbok diajari oleh Dessy untuk menerima telepon, karena Dessy menganggap bahwa keluarga mereka bukan keluarga sembarangan.

5. SITI – Pembalasan Si Pitung (Jiih) (Nawi Ismail, 1977)

Sebagai Siti, pacar Jiih. Diculiknya Siti oleh kompeni, musuh Jiih, membuat Jiih membalas dengan menculik istri seorang kompeni. Ini adalah siasat Jiih untuk menumpas kompeni musuhnya dan menyelamatkan Siti kembali.

4. Si Mamad (Sjuman Djaya, 1973)

Salah satu penampilan terbaik Rina Hassim. Drama Kritik sosial Sjuman Djaya ini juga menjadi salah satu film terbaik dari sang maestro. Penampilan Rina di film menunjukkan bakat Rina Hassim sebagai seorang aktris, dan bakatnya makin terasah dengan diarahkan seorang Sjuman Djaya. Chemistry antara Rina dengan Mang Udel begitu terjalin dengan baik. Pasti karena proses reading dan pendalaman karakter yang tidak instan. Akting Rina mendapat penghargaan PWI untuk runner up ke 4, aktris terbaik PWI 1974.

3. RUMINAH – Semalam di Malaysia (Nico Pelamonia, 1975)

Karakter Ruminah memang memberikan tantangan bagi Rina Hassim untuk memberikan akting yang penuh emosional dan derai air mata. Dia adalah seorang ibu yang kehilangan dua anaknya karena kapal suaminya kandas di Malaysia. Berbagai jalan berliku akhirnya mempertmukan Ruminah dengan anak-anaknya saat Ruminah akan meninggal. Ternyata permainan Rina Hassim tidak mengecewakan, dan dapat memancing emosi dan air mata. Filmnya pun juga termasuk film yang bagus dan agak berbeda dengan kebanyakan film di era itu. Sebuah Piala Citra pertama untuk aktris terbaik dimenangkan oleh Rina Hassim.

2. IBU MARULI – Akibat Kanker Payudara (Frank Rorempandey, 1987)

Saya rasa, penampilan terbaik di film ini adalah Rina Hassim, selain Remy Sylado. Sebagai wanita Batak, mantan penderita kanker payudara, Rina kecewa dengan anaknya, Maruli, yang meninggalkan istrinya karena sakit kanker payudara. Sebagai ibu, dia kecewa dengan sikap anaknya, karena dia sendiri adalah pengidap kanker payudara yang juga ditinggalkan oleh ayah Maruli. Akting Rina Hassim begitu memukau saat adu argumen dengan adiknya, paman Maruli (Remy Sylado) yang berlainan pandangan dengan dirinya, kemudian saat Ibu Maruli menumpahkan perasaan kecewanya pada anaknya, Maruli, yang begitu emosional. Perannya ini membawa Rina Hassim mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan menang di ajang Festival Film Asia Pasifik 1989 untuk Best Supporting Actress, selain mendapat nominasi pemeran pembantu wanita di FFI.

1. LOLA – Secangkir Kopi Pahit (Teguh Karya, 1984)

Untuk pertama kalinya Rina Hassim disutradarai oleh Teguh Karya. Sebenarnya Rina Hassim memang berbakat di film-film drama, tapi juga kenyataannya Rina juga banyak tampil di film-film horor dan film kelas C. Cukup menarik memang menyaksikan film drama sosial ini, karena penampilan para pemain yang prima, cerita yang mengalir baik dan tidak happy ending, tapi berisi kemuraman dan kegetiran pria bernama Togar (Alex Komang). Rina Hassim sebagai Lola, pelacur dan juga seorang janda beranak tiga yang punya warung sekaligus rumah bordil. Lola dan Togar dipertemukan di warung Lola, yang kemudian tumbuh cinta di antara mereka. Lola dan Togar bercinta sampai Lola hamil, mereka menikah. Berbagai hambatan dan kekalutan dialami Togar sampai pada akhirnya Togar memboyong Lola dan anak-anaknya ke kampung halaman Togar. Ternyata Lola dan ketiga anaknya diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Togar, dan Lola mati karena tenggelam karena kecerobohan Togar. Saya rasa pemilihan Teguh Karya untuk pemeran Lola sangatlah tepat. Rina Hassim sangat cocok memerankan Lola, dan akting debut Alex Komang saya rasa juga terbantu oleh kematangan permainan seorang Rina Hassim. Secangkir Kopi Pahit meraih banyak nominasi di FFI 1985, termasuk pemeran utama wanita untuk Rina Hassim.

Artikel Terkait

  • LEWAT DJAM MALAM: Pembatasan Belenggu Pertanyakan Kemerdekaan
  • Karakter: ‘PEMAIN BERLATAR TEATER’ (BAGIAN 1)
  • #BestOf Scoring IDRIS SARDI
  • Sosok : SYLVIA WIDIANTONO
  • Adegan Layar Klasik Berkesan (bagian 2)

About the author
Penulis: Rangga Wisesa. Linimasa: @ranggawisesa  Blog: Rolfilmblog.blogspot.com ——————————————————————————- Penulis @ranggawisesa adalah kontributor tamu  www.officialfilmIndonesia.com untuk artikel, profil #BintangFilm & #ReviewFilm untuk #LayarKlasik. Rangga dikenal dengan kesukaannya menonton film klasik di Sinematek, kemudian mengapresiasinya dalam tulisan di blognya Rolfilmblog.blogspot.com Suatu hobi yang unik dan menarik untuk diceritakan kepada pencinta film_Indonesia yang belum terlalu mengenal film klasik. ——————————————————————————- Tetap cintai film_Indonesia dulu, kini dan nanti #Official  @film_Indonesia Media Apresiasi Karya Cinta Film_Indonesia Salam pencinta film_Indonesia, Hafiz_Husni editor in chief  www.officialfilmIndonesia.com
Social Share

Leave a Reply Cancel reply

*
*

captcha *

Follow @FILM_Indonesia
Berita Film Populer
KETENTUAN DAN MEKANISME PENDAFTARAN KOMPETISI FILM NON BIOSKOP - PIALA MAYA 2012
7 Comments
<?php the_title(); ?>
Sapa pertama dari @film_Indonesia
1 Comment
<?php the_title(); ?>
THE RAID (2012): The Indonesians Are On A "Mission"
1 Comment
Komentar Terbaru
  • tarnno on Karakter: ‘PEMAIN BERLATAR TEATER’ (BAGIAN 1)
  • Piala Maya on KETENTUAN DAN MEKANISME PENDAFTARAN KOMPETISI FILM NON BIOSKOP – PIALA MAYA 2012
  • Piala Maya on KETENTUAN DAN MEKANISME PENDAFTARAN KOMPETISI FILM NON BIOSKOP – PIALA MAYA 2012
  • Piala Maya on KETENTUAN DAN MEKANISME PENDAFTARAN KOMPETISI FILM NON BIOSKOP – PIALA MAYA 2012
Seputar @Film_Indonesia
  • #KontakKami
  • #TentangKami

Official FILM_Indonesia --- Media Apresiasi Karya Cipta FILM_Indonesia
Web developed by Caprivhia.com